Icon

Tentang Al-Iman

Pondok Pesantren Al-Iman Bulus Purworejo

         Pondok Pesantren Al-Iman adalah sebuah lembaga di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al-Iman yang berdiri sekitar abad 17-an, oleh Mbah Ahmad Alim dan menjadi pesantren tertua di Purworejo.

         Ponpes Al-Iman mempunyai sejarah panjang. Setelah mengalami kekosongan selama kurang lebih 20 tahun, Ponpes Al-Iman Bulus dibangun kembali oleh al-Ustadz Agil Ba’abud pada tahun 1950 M. Pasca wafatnya Ustadz Agil pada 1987 M, perjuangan beliau diteruskan oleh putranya yang ketiga, yakni al-Ustadz Hasan Agil Ba’abud hingga saat ini.

         Ponpes Al-Iman mengalami perkembangan pesat. Di bawah kepemimpinan al-Ustadz Hasan Agil Ba’abud, jenjang pendidikan formal dilengkapi dengan mendirikan Raudhotul Athfal (RA), Madrasah Ibtidai’yyah (MI), Madrasah Tsanawiyyah 02, sekolah tinggi Ma’had ‘Aly, serta Madrasah Takhassus. Saat ini, Pesantren Al-Iman Bulus memiliki santri kurang lebih 4.000 santri putra putri, dan menjadi salah satu dari lima pesantren besar di Provinsi Jawa Tengah.

Sejarah

         Pondok Pesantren Al-Iman Bulus merupakan Lembaga Pendidikan Pesantren tertua di Kabupaten Purworejo. Kronik sejarah panjang menjadi bukti akan rekaman peradaban yang penuh kisah inspiratif dan identik dengan hikmah, serta harus dipertahankan agar tidak lapuk tergerus zaman.

         Kisah berawal pada kurun abad 17-an saat seorang ghuroba’ (pengembara) membabad tanah bulus bersama dengan beberapa santrinya. Bulus yang kala itu masih dalam keadaan hutan belantara, belum terdapat sedikitpun tanda-tanda kehidupan manusia di dalamnya.

         Peradaban kehidupan di seantero jagad ini tidak pernah lepas dari peran para tokoh yang menjadi ujung tombak untuk memimpin keberlangsungan bangsa, serta berperan dalam melahirkan dan mengembangkan peradaban. Peran penting dan krusial dari para muassis Pesantren Bulus tentunya menjadi kewajiban santri-santrinya untuk senantiasa menjaga serta melestarikan kisah inspiratif dari perjalanan dan biografi dari para masyayikh. Perjalanan Bulus dimulai dari era Mbah Ahmad ‘Alim, yang hidup pada zaman Hindia-Belanda berkuasa di tanah Nusantara.

Simbah Ahmad ‘Alim

         Pada akhir abad 17 M Nusantara menjadi tanah yang diperebutkan oleh bangsa barat, pasalnya Nusantara termasuk salah satu daerah penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Banyak praktek kolonialisme yang diterapkan oleh bangsa barat. Hingga akhirnya memicu perlawanan dari penduduk setempat. Bahkan, bangsa barat tidak hanya menjajah dan menjarah Nusantara, mereka juga melakukan misi praktek dakwah kristenisasi. Hal tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri di kalangan ulama. Selain memperjuangkan kemerdekaan, ulama juga mempertahankan keimanan dan tauhid masyarakat muslim. Salah satunya dengan tetap disiplin dan konsisten dalam mengajarkan syari’at Islam. Begitupula yang dilakukan Mbah Ahmad Alim.

         Simbah Ahmad ‘Alim termasuk ghuroba’ yang diberi anugerah berumur panjang. Menurut pendapat yang terkuat, umur beliau lebih dari seratus-an tahun. Anugerah ini tentunya tidak mungkin disia-siakan oleh beliau, sebagai tokoh yang hadir sebagai ulama’. Beliau memanfaatkannya dengan mengembara untuk menyebarkan Islam serta mengajarkan ilmu syari’at kepada masyarakat.

         Perjalanan panjang dakwah dan pengaruh beliau dalam menyebarkan syariat Islam, pastilah diawali dengan menimba ilmu dari ulama dan guru-guru beliau. Rihlah tholabul ilmi yang dilakukan beliau dimulai dari menimba ilmu di Pekalongan. Beliau mengaji dan belajar menghadap kepada beberapa ulama’ besar disana. Setelah beberapa saat, beliau melanjutkan pencarian ilmunya di tanah suci Makkah.

         Sepulang Mbah Ahmad Alim dari Makkah, beliau kembali ke Pekalongan, lalu menikah hingga memiliki keturunan disana. Singkat cerita, setelah beberapa waktu mukim di Pekalongan beliau melakukan perjalanan dakwah, dari daerah sekitar Pekalongan hingga daerah Wonosobo, Temanggung, Magelang, dan beberapa daerah lain. Dari beberapa tempat tersebut Mbah Alim mendirikan musholla dan pesantren. Tempat yang menjadi puncak dari perjalanannya mengajarkan syari’at berada di tanah yang sekarang disebut dengan ‘Bulus’. Salah satu alasan beliau memilih tempat ini karena daerahnya jauh dari pusat pemerintahan Hindia-Belanda.

         Kedatangan Mbah Alim terdapat dua versi, antara versi yang menyatakan bahwa Mbah Alim diasingkan dan beliau datang sukarela mencari tempat aman untuk dakwah. Mengikuti versi yang pertama, beliau diasingkan karena pengaruhnya dalam menyebarkan Islam serta mengajarkan syari’at Islam. Pada dasarnya, Belanda tidak begitu mempermasalahkan penyebaran Islam berkembang pesat, hanya saja Pemerintah Hindia-Belanda khawatir jika kelak menjadi kekuatan yang dapat menggoyahkan bahkan menjatuhkan kekuasaan Belanda.

         Mbah Ahmad Alim membabad tanah Bulus tidak seorang diri, beliau bersama dengan beberapa santrinya. Kemudian dilanjutkan dengan membangun beberapa gubug, musholla dan tempat ngaji. Beberapa santri Mbah Alim yang melanjutkan perjuangannya dalam mengajarkan syari’at Islam serta mendirikan pesantren diantaranya adalah Kyai Muhyiddin ar-Rofi’i Luning dan Mbah Sholeh Darat.

         Salah satu wasiat dan pesan Mbah Ahmad Alim kepada semua santrinya adalah, “Turunanku ora usah tirakat, sak uga gelem mantep anggone nglakoni ngaji, bakal diparingi dadi wong mulya dunyo tumekane akherat” (Anak turunku tidak usah prihatin dengan melakukan tirakat, asalkan mau mengaji kelak akan menjadi orang mulia dunia dan akhirat).

         Sebagai ulama’, rutinitas Mbah Alim bukan hanya mengajar atau mulang ngaji, namun juga tirakat dan melakukan banyak rangkaian ibadah untuk mendoakan santri-santrinya, agar mendapatkan ilmu yang bermanfa’at dan berkah. Bahkan, beliau sampai pada tahapan Tirakat tapa pendhem, selama empat puluh hari empat puluh malam.

         Beliau wafat pada Jumat Wage, 1 Jumadil Awal 1262 H/1842 M, dan dimakamkan di barat Masjid Jami’ Al-Iman Bulus Gebang Purworejo.

Sayyid Ali bin Sayyid Kasan Samparwadi Ba’abud

         Dalam sela-sela rotasi bumi terdapat rangkaian kisah kehidupan yang tidak lepas dari lika-liku kehidupan. Ibarat kata, tidak ada jalan kehidupan yang selamanya mulus, berjalan tanpa rintangan dan tantangan. Begitupula yang dialami oleh Pesantren Bulus. Setelah wafatnya Mbah Ahmad Alim, Pesantren Bulus mengalami kekosongan kepemimpinan sekitar tiga tahun lamanya.

         Tampuk kepemimpinan Pon-Pes Bulus dilanjutkan oleh putra dari Sayyid Kasan Munadi, yakni Sayyid Ali Ba’abud. Diceritakan, bahwa sebelum Mbah Alim wafat, beliau memberikan wasiat kepada anak cucunya bahwa Pesantren Bulus ini diserahkan kepada Sayyid Ali. Wasiat Mbah Alim tersebut juga disampaikan oleh Bupati Purworejo KRA. Cokronagoro dan meminta kepada Sayyid Ali untuk tinggal menetap serta mengasuh Pesantren Bulus.

         Sayyid Ali merupakan putra dari Sayyid Kasan Munadi yang menikah dengan Putri Raden Tumenggung Dipodirjo I. Sedangkan Sayyid Kasan Munadi adalah putra dari Sayyid Alwi yang menikah dengan mantan istri Sultan Hamengkubuwana I. Lalu Sayyid Kasan Munadi berputra Sayyid Ali dan Syarifah yang kemudian menikah dengan Mbah Muhammad Alim putra dari Mbah Ahmad Alim.

         Kehidupan manusia di dunia yang fana’ ini tidaklah lestari adanya. Generasi ke generasi berganti dengan siklus kehidupan yang natural. Oleh karena itu, pernikahan menjadi hal yang lazim bagi setiap insan. Sebelum Sayyid Ali mengasuh pesantren Bulus, beliau menikah dengan Putri Raden Tumenggung Kertopati bin KRA. Cokronegoro I (bupati pertama Purworejo). Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai beberapa putra dan putri yang berjumlah tujuh.

         Setelah Sayyid Ali diminta untuk mengasuh Pesantren Bulus, beliau bersama dengan keluarganya pindah dan menetap ke Bulus. Tak berselang lama santri pun berdatangan untuk menimba ilmu kepadanya. Beliau mengajarkan ilmu kepada santri-santrinya yang terdri dari golongan muda dan tua dengan metode salaf. Beliau juga mengajarkan Tarekat Syatariyyah mengikuti pendiri Pesantren Bulus.

         Setelah beliau wafat, Pesantren Bulus dilanjutkan oleh putra ketiganya, yakni Sayyid Muhammad.

Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Ali Ba’abud

         Kehebatan dan kejayaan seseorang memanglah disebabkan karena perjuangan dan usahanya dalam menjalani proses kehidupan. Namun, juga tidak akan lepas dari sumbangsih orang tuanya. Pepatah mengatakan, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Meskipun hal itu bukanlah kepastian dalam hidup, setidaknya bisa dijadikan tolak ukur dasar untuk dapat mengetahui seseorang. Begitupula yang ada dalam diri Sayyid Muhammad. Beliau memiliki semangat dan kemauan yang besar untuk mendalami ilmu, karena Sayyid Ali pun adalah ulama’ yang sangat mementingkan tholabul ‘ilm. Jadi, sudah semestinya Sayyid Muhammad melanjutkan perjuangan ayahandanya dalam mengasuh Pesantren Bulus.

         Sayyid Muhammad merupakan putra ketiga dari Sayyid Ali. Pendidikan beliau dimulai dari asuhan langsung ayahandanya. Kemudian, setelah sekiranya memiliki cukup modal kemampuan, beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke tanah suci Makkah. Salah satu guru yang mendidik beliau adalah Sayyid Zaini Dahlan, termasuk syaikhul Islam di wilayah Hijaz serta menjadi imam al-Haramain. Tentunya disana beliau tidak hanya belajar ilmu-ilmu eksak syari’at, namun disana beliau juga mendapatkan ijazah Tarekat ‘Alawiyyah. Sehingga, saat kembali dari perjalanan pengembaraan ilmunya dan mukim di Bulus, beliau mengajarkan Tarekat ‘Alawiyyah di lingkungan sekitar dan kepada para santrinya.

         Kemuliaan seseorang tentulah berbanding lurus dengan usaha yang diperjuangkannya. Hal baik yang diraih seseorang di hari tua, tidak lain tidak bukan adalah apresiai dari Allah karena saat mudanya bersedia untuk berjuang dan tidak menyerah. Sayyid Muhammad adalah sosok yang sangat besar perjuangannya dalam menimba ilmu, terbukti dengan adanya pengembaraan ilmunya sampai ke tanah suci Makkah. Hal tersebut bisa dirasakan dengan perubahan dan pembaharuan metode yang diterapkan di Pesantren Bulus. Beliau menerapkan konsep, sistem dan model pembelajaran “Klasikal Madrasi” di Pondok Bulus. Yakni, pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas, serta sudah memanfaatkan media papan tulis untuk mejadi sarana prasana. Padahal, kala itu mayoritas ulama’ masih mengharamkan metode belajar dengan menulis ayat al-Qur’an di papan tulis. Meskipun pada era sekarang metode tersebut sudah lazim diterapkan dalam lingkungan pesantren di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa beliau termasuk ulama’ yang progesif dan memiliki prinsip yang intens dalam pendidikan, sehingga memiliki terobosan metode yang mutakhir.

         Sayyid Muhammad menikah dengan putri R. Danutirto dan berputra Sayyid Dahlan. Kemudian menikah yang kedua dengan R.A Salimah putri dari KRT. Kasan Mukmin dan berputra Sayyid Agil. Beliau wafat pada 18 Sya’ban 1349 H/1930 M dan dimakamkan di barat Masjid Jami’ Al-Iman Bulus. Kemudian tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh putra sulungnya, Sayyid Dahlan.

Sayyid Dahlan bin Sayyid Muhammad Ba’abud

         Sayyid Dahlan merupakan putra Sayyid Muhammad dari pernikahan dengan putri R. Danutirto. Beliau lebih akrab dengan sapaan Ndoro Dahlan. Setelah Sayyid Muhammad wafat, Sayyid Dahlan melanjutkan perjuangan ayahandanya.

         Perbedaan zaman menuntut adanya pembaharuan dan perbaikan. Metode yang dicetuskan oleh Sayyid Muhammad, yakni metode klasikal madrasi, dikembangkan oleh Sayyid Dahlan. Sistem pendidikan pesantren ditata menjadi madrasah formal diniyyah, lalu diberi nama Pesantren al-Islamiyyah.

         Dengan adanya sistem yang ditata menjadi lebih rapi, tentunya berdampak baik bagi keberlangsungan pesantren. Bahkan, hal tersebut menjadikan Pesantren al-Islamiyyah menjadi masyhur dan dikenal banyak kalangan. Hingga akhirnya mendapat kunjungan tamu kehormatan dari Makkah, yakni Syaikh Ahmad Shodaqoh putra dari Sayyid Dahlan Syafi’i Makkah.

         Selain menjadi pesantren tempat menimba ilmu, Pesantren al-Islamiyyah pada era Sayyid Dahlan ini juga menjadi sentral pengulon atau Balai Pencatat Nikah. Jadi pada masa itu, meskipun pesantren ini berada di pelosok desa, banyak kalangan yang mengetahui dan mengenalinya. Namun, sayangnya hal itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa tahun Sayyid Dahlan mengasuh Pesantren al-Islamiyyah, kurang lebih delapan tahun lamanya, Imam Masjid Kauman wafat lalu tidak ada seorangpun yang melanjutkannya. Oleh karena hal itu, pada tahun 1938 Bupati Purworejo KRA. Hasan Danudiningrat menunjuk Sayyid Dahlan untuk menjadi Imam disana.

         Setelah Pesantren al-Islamiyyah ditinggalkan oleh Sayyid Dahlan, terjadilah fathroh (kekosongan kepemimpinan) yang kedua. Namun, karena pada masa itu bertepatan dengan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan, Pesantren al-Islamiyyah yang berada di pelosok dan jauh dari perkotaan, menjadi tempat yang tepat untuk dijadikan markas Pasukan Hizbulloh. Jadi, Pesantren al-Islamiyyah dalam beberapa tahun menjelang kemerdekaan tidaklah kosong tanpa penghuni, karena terdapat aktifitas yang dilakukan oleh Pasukan Hizbulloh.

Sayyid Agil bin Sayyid Muhammad Ba’abud

         Setelah kekosongan kepemimpinan yang kedua, Sayyid Agil melanjutkan perjuangan Pesantren Bulus. Tentunya, dalam memulai kembali perjuangan tidaklah mudah. Selain tidak adanya santri yang mukim, juga bangunan yang sudah rusak menunjukkan sudah tidak berumur muda lagi berdirinya pesantren ini.

         Sayyid Agil lahir pada tahun 1918 M di Bulus dari pernikahan Sayyid Muhammad dengan R.A Salimah. Seperti pada umumnya, sebelum beliau memulai rihlah ilmiyyah ke berbagai pesantren, beliau belajar dan mengaji kepada ayahandanya langsung. Namun, saat Sayyid Agil baru berusia 12 tahun, ayahandanya wafat. Hal ini menjadi titik awal perjalanan ilmiah atau perjalanan nyantri Sayyid Agil dimulai.

         Pesantren yang menjadi tujuan pertama yang disinggahi oleh Sayyid Agil adalah Pesantren Watucongol, Magelang di bawah asuhan K.H Dalhar. Disana beliau belajar Al-Qur’an dan beberapa disiplin ilmu dasar. Hubungan antara Sayyid Agil dengan gurunya sangatlah dekat. Bahkan menurut cerita masyhur, beliau sampai diangkat putra oleh Simbah K.H Dalhar.

         Setelah nyantri di Watucongol, beliau melanjutkannya ke daerah Kebumen. Pesantren Lirap ini memiliki ciri khas sebagai pesantren yang mengunggulkan dan mengutamakan ilmu alat, seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh, dsb. Di bawah asuhan Simbah K.H Ibrahim inilah beliau mendalami ilmu alat dan Bahasa Arab. Selepas itu, beliau melanjutkan rihlah ilmiyyah-nya di bawah bimbingan Simbah K.H Maksum Lasem, Rembang. Beliau belajar dan mengaji banyak disiplin ilmu di pesantren ini, dari ilmu Fiqh, Tasawuf, Tafsir, Tauhid dan sebagainya. Beliau juga mendalami ilmu Fiqh kepada K.H Maksum, dari tahapan Fiqh dasar seperti kitab Fathul Qarib hingga kitab Muhadzab, Mahalli dan sebagainya. Pesantren yang menjadi tempat menimba ilmu beliau selanjutnya adalah Pesantren Al-Iman Magelang yang diasuh oleh Sayyid Sagaf. Disini, beliau mendalami Hadits dan Lughoh ‘Arobiyyah.

         Setelah beberapa pesantren beliau singgahi, beberapa tahun beliau habiskan untuk menimba ilmu, serta beberapa ulama’ sudah menjadi guru-guru beliau, akhirnya beliau pulang ke tempat kelahirannya dan mukim di desa Bulus. Selepas itu, beliau menikah dengan Sayyidah Salmah as-Segaf dan dikaruniai putra-putri, yaitu:

1.     Sayyid Muhammad (tinggal di Surabaya)

2.     Syarifah Nikmah (wafat pada usia dini)

3.     Sayyid Alwi (tinggal di Kudus)

4.     Sayyid Hasan (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Iman Bulus)

5.     Syarifah Anisah (tinggal di Purworejo)

         Pepatah mengatakan, satu butir gula akan mengundang segerombolan semut. Meskipun Pesantren Bulus berada di tengah belantara yang jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan, dengan singgahnya Sayyid Agil di Bulus tentunya mengundang banyak santri yang ingin menimba ilmu dari beliau. Pasalnya beliau adalah sayyid, seorang ‘alim yang mendalam pemahamannya.

         Jadi, setelah kekosongan pengasuh yang berlangsung beberapa tahun serta tidak adanya santri yang mukim di Bulus, Sayyid Agil melanjutkan perjuangan untuk memimpin Pesantren Bulus. Perbaikan bangunan, penataan sistem dan pembenahan kurikulum pun dilaksanakan. Berbagai cara dilakukan agar Pesantren Bulus kembali berfungsi dan melahirkan para santri yang tetap berpegang teguh pada prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

         Setiap bangsa dan peradaban, dapat diketahui, dikenal serta dikenang oleh generasi selanjutnya tak hilang ditelan masa, salah satunya karena setiap bangsa dan peradaban itu memilki nama. Bahkan, terkadang nama itu merepresentasikan suatu hal yang memiliki nama tersebut. Sama halnya dengan pesantren dan lembaga-lembaga lainnya. Pada era Simbah Ahmad Alim hingga masa Sayyid Muhammad, pesantren ini dikenal dengan nama Pesantren Bulus. Kemudian diganti nama menjadi Pesantren al-Islamiyyah oleh Sayyid Dahlan. Namun, setelah mengalami kekosongan kepemimpinan yang kedua, Pesantren al-Islamiyyah diganti namanya oleh Sayyid Agil menjadi Pondok Pesantren Al-Iman. Beliau memberikan nama Al-Iman bermaksud tafa’ulan kepada gurunya, Sayyid Sagaf yang mengasuh Pesantren Al-Iman Magelang. Selanjutnya, beliau menerapkan sistem yang kemudian menjadi identitas Pesantren Al-Iman saat ini. Beliau mengadopsi sistem pembelajaran dasar Pesantren Lirap, yang fokus mendalami ilmu-ilmu alat seperti Nahwu, Shorof, Balaghoh dan sebagainya. Selain mengajari ilmu syari’at dan Tasawuf kepada santri-santrinya, Sayyid Agil juga memberikan ijazah Tarekat ‘Alawiyyah. Beliau mendapatkan sanad dari ayahandanya, Sayyid Muhammad Ba’abud.

         Sayyid Agil wafat pada hari Jum’at Wage, 7 Dzulqo’dah 1409 H/3 Juli 1987 M. Setelah itu Pengasuh Pondok Pesantren Al-Iman Bulus dilanjutkan oleh putra ketiganya, yakni Al-Ustadz Hasan Ba’abud, putra ketiga Sayyid Agil. Banyak sekali perbaikan dan pembaharuan di era Ustadz Hasan, baik dalam perbaikan dan penambahan sarana prasarana maupun perbaikan sistem pendidikan, dengan tetap mempertahankan identitas Pondok Bulus.

         Begitulah sekilas tentang sejarah singkat Pondok Bulus dan sedikit profil Masyayikh Bulus. Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan dan kesadaran untuk tetap semangat dan giat dalam menimba ilmu, serta bisa memantaskan diri supaya layak, pantas dan patut diakui Santri Bulus. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Program

Program Unggulan Al-Iman

Lomba

Ajang Perlombaan…

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing…


Selengkapnya

Karya

Sastra Ilmiah…

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing…


Selengkapnya

Seni Menghafal

Seni Menghafal…

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing…


Selengkapnya